Saturday, February 23, 2013

Mengembalikan Fungsi Trotoar


Kecuali di jalan-jalan protokol ibu kota seperti di jalan Jenderal Sudirman, Thamrin dan Kuningan, hampir seluruh trotoar yang ada di ibukota kondisinya sangat jauh dari fungsi yang sebenarnya. Bahkan, masih banyak juga jalanan yang tidak memiliki trotoar di kiri kanannya sehingga sangat berbahaya bagi para pejalan kaki yang melintas karena risiko terserempet bahkan tertabrak kendaraan.

Trotoar seharusnya benar-benar menjadi sarana bagi para pejalan kaki agar nyaman dan aman berjalan di sepanjang pinggir jalanan. Namun yang terjadi di Jakarta banyak trotoar yang sudah berubah fungsi.

Lihatlah misalnya di kawasan pasar prumpung, Jakarta Timur. Para penjual tidak hanya dengan seenaknya menguasai trotoar, mereka bahkan menggunakan sebagian badan jalan untuk menggelar barang jualan mereka. Belum lagi banyak trotoar yang berubah fungsi sebagai lahan parkir liar seperti yang terlihat di jalan S. Parman depan pengadilan negeri Jakarta Barat.

Hal ini sangat merugikan bahkan membahayakan para pejalan kaki. Untuk menempuh jarak yang tidak terlalu jauh, orang seharusnya dapat mencapai tujuan hanya dengan berjalan kaki dengan aman di atas trotoar. Namun karena sudah berubah fungsi, maka mereka harus berjalan mlipir di pinggirian jalan raya dengan kewaspadaan tinggi agar tidak terserempet kendaraan dari belakang.

Masalah ini seyogyanya harus segera dapat diatasi oleh pemerintah daerah dengan secara tegas menegakkan larangan pemakaian trotoar untuk fungsi-fungsi yang tidak diijinkan seperti berjualan, lahan parkir, dsb.

Kondisi seperti ini jelas sangat jauh berbeda dengan yang ada di negara-negara maju eropa bahkan dengan negara tetangga Malaysia dan Singapura. Di Singapura pejalan kaki dapat dengan nyaman dan aman berjalan di trotoar, bahkan mereka dapat beristirahat karena untuk beberapa jarak tertentu pemerintah menyediakan bangku untuk sekedar duduk menghela nafas.

Bila fungsi trotoar dapat dikembalikan niscaya dampak langsung maupun tidak langsungnya akan sangat signifikan. Sebut saja diantaranya, orang akan banyak menghemat biaya transportasi karena mereka akan lebih suka memilih berjalan kaki untuk menempuh jarak yang tidak terlalu jauh dengan berjalan di trotoar yang aman dan nyaman ketimbang menggunakan jasa bajai, ojek atau angkot yang juga tidak murah. Selain penghematan biaya, fungsi trotoar yang baik juga dapat memicu orang untuk menjadikan jalan kaki sebagai olah raga dan bagian dari budaya hidup sehat. Semua ini hanya bisa terwujud bila trotoar-trotoar di Jakarta dikembalikan kepada fungsinya. Semoga. 

No comments:

Post a Comment