Sunday, July 31, 2016

Mengapa Rasullullah Muhammad (SAW) harus menunggu 40 tahun untuk mengajarkan Islam?



Pertanyaan: Nabi Muhammad (S.A.W.) memperoleh kekuatan spiritual dari Allah untuk mengajarkan Islam setelah Beliau mencapai usia 40. Mengapa tidak sebelumnya (sebelum usia 40) dimana saat itu orang juga masih menyembah berhala dan perlu mendapatkan ajaran Islam.

Jawaban: Adalah keliru mengatakan bahwa "Nabi Muhammad memperoleh kekuatan spiritual dari Allah setelah beliau mencapai usia 40". Beliau (Nabi Muhammad) sudah menjadi Nabi bahkan sebelum penciptaan Adam (A.S.) Kalimat yang sesuai adalah "Beliau diizinkan untuk mengajarkan Islan setelah mencapai usia 40".

Mengapa Beliau diperintahkan untuk menunggu sekian lama? karena Allah ingin agar orang-orang Arab melihat karakter, kebenaran, kejujuran Beliau, sehingga pada saat Beliau menyatakan dan mengumumkan bahwa Beliau diutus oleh Allah maka tidak ada orang pun yang dapat menyangkal bahwa Beliau adalah orang yang tidak dapat dipercaya atau seorang penipu ulung.

Masyarakat Mekah kala itu menuduh Beliau sebagai seorang penyair, seorang tukang sihir atau seorang yang terkena sihir; akan tetapi tidak ada satupun dari mereka yang menuduh bahwa Beliau adalah orang yang tidak dapat dipercaya. Bahkan, pada saat kaum Quraisy berencana untuk membunuh Beliau, mereka masih sering mempercayakan dan menitipkan harta benda berharga mereka kepada Rasulullah.


Kepercayaan dan keyakinan tersebut tidak akan mungkin timbul seandainya Nabi Muhammad mengumumkan kenabiannya sebelum waktu yang ditentukan oleh Allah (setelah usia 40 tahun).

Friday, April 4, 2014

Memilih Pemimpin, Memilih Tempe



Memilih pemimpin?. Ah, rasanya saya kok belum mampu untuk memilih pemimpin, apalagi memilih pemimpin suatu organisasi segedhe negara. Ini serius, sangat serius. Soal memilih orang yang kita percayai untuk menjadi pimpinan masyarakat ini jangan pernah main-main. Apalagi sembrono.

Memilih tempe

Saya punya banyak analogi. Salah satunya adalah memilih tempe. Anda patut berterima kasih kepada istri Anda karena selama ini kebutuhan gizi di rumah terpenuhi. Soal memilih makanan ini saja mereka selektifnya minta ampun. Biasanya mereka beli dari pedagang yang sudah punya reputasi bagus soal mutu. Itupun masih dipilih-dipilih, jangan sampai keliru milih, bagian atas kelihatannya bagus belum tentu belaiknya mulus, dibolak-balik, dipastikan tidak busuk atau tidak ada jamur, setelah yakin baru diputuskan dibeli. 

Bahkan, agar 100% yakin, mereka merasa perlu untuk melakukan perbandingan. Mereka lihat dulu barang dagangan dari penjual lain di kanan kiri. Harganya, mutunya, semua aspek. Ya ampun, ini baru cuma sekedar milih tempe.

Pemimpin adalah anugerah terbesar dari Tuhan

Tuhan selalu mengawali membangun suatu masyarakat dengan menciptakan seorang pemimpin terlebih dulu. Peran pemimpin teramat vital demi mewujudkan “misi” Tuhan di bumi. Sayangnya, semakin ke sini kita semakin lupa bahwa pemimpin pilihan Tuhan sejatinya adalah pemimpin yang hakiki, pemimpin yang sebenar-benarnya pemimpin, yang kredibilatasnya tak perlu diragukan lagi demi memimpin manusia menuju ketentraman dunia dan akhirat.

Sayangnya lagi, kita juga tidak sadar telah disetir sedemikian rupa dan cara pandang kita dibolak-balikkan bahwa pemimpin agama tak sama bahkan tak layak jadi  pimpinan masyarakat.  Agama ya agama, dunia ya dunia. “Produk” Tuhan tak lagi laku untuk urusan dunia karena tidak mutakhir, tidak up to date.  Kedaulatan di tangan rakyat, lalu dimana kedaulatan Tuhan? Suara rakyat suara Tuhan, Oh.. Tuhan disamakan dan disejajarkan dengan rakyat padahal rakyat bermacam-macam mutunya. Gendheng tenan, hanya orang bodoh yang membuat perbandingan dengan objek banding yang sama sekali tidak sepadan.

Kewajiban sebanding dengan kemampuan

Haji hukumnya wajib kalau mampu, kalau tidak mampu ya tidak wajib. Puasa wajib kalau mampu, kalau tidak mampu ya tidak wajib bahkan orang sakit dilarang berpuasa. Coba anak Anda yang masih berumur 5 tahun Anda suruh angkat lemari besi seberat 25 kilo, itu namanya Anda nggak waras. 

Kalau Anda merasa mampu memilih pemimpin maka kewajiban memilih pemimpin berlaku atas diri Anda. Mampu yang saya maksud di sini adalah Anda tahu benar siapa yang akan Anda pilih, intelektualitasnya, kepeduliannya, kemampuannya, track record-nya, mutunya, perilakunya, akhlaknya, setelah itu dilakukan perbandingan dengan calon pemimpin yang lain, plus minusnya ditimbang.

Saya tidak yakin semua orang memiliki kemampuan untuk memilih pemimpin dengan cara yang tertib seperti ini. Mbok-mbok penjual jamu, tukang ojek, kuli bangunan, sopir angkot, tukang sayur, TKI, TKW, penjual nasi goreng, sopir bajai, petani, buruh lepas, pengangguran, preman napi, dan seterusnya, apakah mereka memiliki kapasitas dalam memilih pemimpin yang dampaknya sangat serius terhadap kehidupan banyak orang?

Saya tidak sedang secara sepihak memandang sebelah mata kepada orang-orang ini tapi saya ingin mengatakan begini, 

“Wahai saudara-saudaraku yang setiap hari enegi dan pikiran Anda sudah terkuras sedemikan rupa untuk memikirkan bagaimana mencari uang demi bertahan hidup, kalau Anda tidak mampu dan tidak memenuhi kriteria untuk memilih pemimpin maka Anda tidak wajib memilih." 

Memilih dengan cara yang sembarang apalagi sembrono apalagi hanya karena dijanjikan akan diberi ini dan itu, akan dibangunkan ini dan itu, sampai ada yang bersumpah-sumpah dengan nama Tuhan hanya akan membuat bangsa kita semakin bertambah runyam urusannya dan semakin kelam masa depannya. 

Pemimpin harus yang seagama?
Lebih penting mana, atau, manakah yang lebih menjamin, identitas atau substansi? bungkus atau isi?, casing atau mutu?, pakaian atau perbuatan? 
Substansi agama adalah perilaku. Inti dari semua nilai dan ajaran yang dibawa oleh semua agama adalah takut, tunduk, dan menjadikan Tuhan sebagai supremasi dalam diri setiap orang. 

Haji boleh 13 kali tapi jika perilakunya busuk ya apalah artinya peci  dan sorban putih  atau gelar haji itu. Panggilannya boleh ustadz, pastor, rahib, biksu, kyai, gus, habib, pendeta, biawaran tapi kalau tidak menjunjung tinggi misi Tuhan untuk membawa kemaslahatan atau ketentraman kepada umat ya tidak ada artinya semua gelar itu.

Saya bisa kasih Anda ratusan contoh tentang betapa identitas sama sekali tidak memberikan jaminan apapun terhadap substansi dari identitas tersebut. Salah satunya, coba Anda tanya kepada koruptor-koruptor pemakan uang negara itu, KTPnya Islam, namanya nyantri karena diserap dari bahasa arab tanda bahwa mereka lahir dari keturunan orang Islam, partainya pakai atribut-atribut dan lambang-lambang keagamaan, tapi toh tetap saja mau makan uang yang bukan hak mereka. 

Orang yang beragama adalah orang yang takut dan tunduk kepada Tuhan apapun identitas agamanya. Sekali lagi, identitas tidak memberikan jaminan apapun, saya harap Anda tidak mudah tertipu dengan tampilan, ucapan, namun saya juga tidak menyarankan Anda gelap mata memilih orang-orang yang jelas-jelas tidak menunjukkan nilai ketuhanan dalam perilaku  mereka.

Setelah saya pikir dan pertimbangkan masak-masak kemampuan saya dalam memilih pemimpin atau wakil rakyat, akhirnya saya memutuskan bahwa saya mampu untuk tidak memilih. 


@Bekasi, April 4, 2014

Monday, February 25, 2013

Berproses bersama Siwo Agus Hidayat


Siapapun Anda, jika ingin menambah cara pandang baru dalam mengenal tuhan, saya sarankan untuk mendengarkan sebuah acara bagus di Radio Lite FM 105.8  Jakarta bertajuk ‘Berproses Menuju Kesejatian Diri’ yang disiarkan setiap hari Kamis malam pukul 9 sampai 10.30.

Adalah Siwo Agus Hidayat yang akan dengan sabar, santun, tegas, lugas, dan jelas melayani setiap penelpon yang menanyakan berbagai macam pertanyaan. Beliau tidak mau didudukkan sebagai narasumber apalagi rujukan. Jangan panggil beliau dengan sebutan ustadz, kiyai atau gelar-gelar lain yang sering orang awam berikan kepada sesorang yang menurut mereka tahu soal agama. Masalah ini selalu dan tidak pernah tidak senantiasa beliau peringatkan kepada para pendengarnya. Cukup panggil belau dengan sebutan ‘Siwo’ atau cukup mas atau pak Agus.  

Acara ini sifatnya sekadar sharing atau berbagi. Ini adalah platform utama yang selalu disampaikan oleh Siwo dalam mukaddimahnya sebelum ia mulai menjawab satu demi satu pertanyaan dari para pendengar.

Sudah sejak sekitar tahun 2003 saya selalu menyempatkan waktu untuk mendengarkan acara ini. Sehingga boleh dibilang saya cukup hafal dengan gaya dan respon Siwo menjawab setiap pertanyaan.

Jangan coba-coba bertanya kepada beliau tentang suatu ayat al-quran atau hadist. Saya jamin Anda akan mendapatkan jawaban standar dari Siwo. “Kalau Anda bertanya tentang ayat, yuk mari kita fungsikan ahli tafsir, jangan menafsiri sendiri, meskipun dengan niatan dan semangat  yang baik pasti nanti Anda akan terjebak. Kalau Anda bertanya tentang suatu hadist, yuk mari fungsikan ahli hadist, jangan menafsiri sendiri atau bergaya seperti ahli tafsir atau ahli hadist.” Itu kira-kira jawaban standar dari Siwo.

Juga, jangan pernah Anda menanyakan masalah-masalah fiqh. Tentang hukum ini hukum itu, cara solat ini solat itu. Untuk persoalan-persoalan fiqh, menurut beliau, kita harus buka kitab fiqh, dan, lagi-lagi, Siwo selalu mengaku dengan lugas bahwa ia tidak memiliki kapasitas untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan semacam itu. Berangkat dari sini saja Siwo sudah mengajarkan kepada kita bahwa seharusnya dan memang yang benar adalah kita bertanya kepada orang yang tepat dan menguasai persoalan. “Yang terjadi sekarang ini adalah budaya komentar menjamur, sementara budaya tabayyun (verifikasi) nihil,” begitu yang sering beliau katakan.

Lantas, apa saja topik yang bisa kita tanyakan kepada Siwo? Ya apa saja, terutama soal tauhid (mengesakan tuhan)  karena dalam bidang inilah siwo mengaku selalu mempunyai ketertarikan dan minat yang besar untuk mempelajarinya.

Anda bisa menanyakan persoalan apa saja kepada Siwo karena bila ia tidak tahu tentang apa yang Anda tanyakan maka Siwo dengan sangat terbuka dan terang-terangan akan mengatakan “Saya tidak / belum tahu.” Sebuah jawaban yang singkat dan jelas dan, menurut saya, sangat gentlemen, karena beliau mengajarkan kepada kita untuk bersikat jujur bila tidak tahu dan tidak overlapping melampaui kapasitas dan kemampuan kita sendiri yang akahirnya justru akan menimbulkan masalah. Toh, bersikap jujur juga diperintahkan oleh agama, bukan?.

Saturday, February 23, 2013

Mengembalikan Fungsi Trotoar


Kecuali di jalan-jalan protokol ibu kota seperti di jalan Jenderal Sudirman, Thamrin dan Kuningan, hampir seluruh trotoar yang ada di ibukota kondisinya sangat jauh dari fungsi yang sebenarnya. Bahkan, masih banyak juga jalanan yang tidak memiliki trotoar di kiri kanannya sehingga sangat berbahaya bagi para pejalan kaki yang melintas karena risiko terserempet bahkan tertabrak kendaraan.

Trotoar seharusnya benar-benar menjadi sarana bagi para pejalan kaki agar nyaman dan aman berjalan di sepanjang pinggir jalanan. Namun yang terjadi di Jakarta banyak trotoar yang sudah berubah fungsi.

Lihatlah misalnya di kawasan pasar prumpung, Jakarta Timur. Para penjual tidak hanya dengan seenaknya menguasai trotoar, mereka bahkan menggunakan sebagian badan jalan untuk menggelar barang jualan mereka. Belum lagi banyak trotoar yang berubah fungsi sebagai lahan parkir liar seperti yang terlihat di jalan S. Parman depan pengadilan negeri Jakarta Barat.

Hal ini sangat merugikan bahkan membahayakan para pejalan kaki. Untuk menempuh jarak yang tidak terlalu jauh, orang seharusnya dapat mencapai tujuan hanya dengan berjalan kaki dengan aman di atas trotoar. Namun karena sudah berubah fungsi, maka mereka harus berjalan mlipir di pinggirian jalan raya dengan kewaspadaan tinggi agar tidak terserempet kendaraan dari belakang.

Masalah ini seyogyanya harus segera dapat diatasi oleh pemerintah daerah dengan secara tegas menegakkan larangan pemakaian trotoar untuk fungsi-fungsi yang tidak diijinkan seperti berjualan, lahan parkir, dsb.

Kondisi seperti ini jelas sangat jauh berbeda dengan yang ada di negara-negara maju eropa bahkan dengan negara tetangga Malaysia dan Singapura. Di Singapura pejalan kaki dapat dengan nyaman dan aman berjalan di trotoar, bahkan mereka dapat beristirahat karena untuk beberapa jarak tertentu pemerintah menyediakan bangku untuk sekedar duduk menghela nafas.

Bila fungsi trotoar dapat dikembalikan niscaya dampak langsung maupun tidak langsungnya akan sangat signifikan. Sebut saja diantaranya, orang akan banyak menghemat biaya transportasi karena mereka akan lebih suka memilih berjalan kaki untuk menempuh jarak yang tidak terlalu jauh dengan berjalan di trotoar yang aman dan nyaman ketimbang menggunakan jasa bajai, ojek atau angkot yang juga tidak murah. Selain penghematan biaya, fungsi trotoar yang baik juga dapat memicu orang untuk menjadikan jalan kaki sebagai olah raga dan bagian dari budaya hidup sehat. Semua ini hanya bisa terwujud bila trotoar-trotoar di Jakarta dikembalikan kepada fungsinya. Semoga.